Kamis, 16 Juni 2011

Muhasabah Diri dengan Mengingat Hakikat Umur


Sahabat, semakin lama kita hidup, tidak terasa amanah umur yang kita dapat sebagai berkah dan nikmat dari Allah SWT juga semakin berkurang dengan sendirinya. Apapun cara kita menikmatinya – menjalaninya itu semata-mata tergantung cara kita mengikapi dan memperdulikan setiap kesempatan yang ada di hadapan kita, baik – buruknya ada dalam sikap terbaik kita menyikapinya.

Baiklah sahabat mari kita sedikit merenungkan kembali pemaknaan tentang umur kita.

Pertama, umur adalah karunia Allah SWT yang wajib kita syukuri dengan sungguh – sungguh dan menggunakannya dengan segala sesuatu yang diridhai oleh Allah SWT. Maka, bangsiapa yang tidak menggunakannya dengan baik berarti dia sudah kufur nikmat. Naudzubillah.

Kedua, umur manusia pada hakikatnya sermakin berkurang. Manusia ketika dilahirkan sudah ditentukan rezeki, jodoh, dan umurnya sehingga semakin bertambah umur berarti jatah umur yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT, akan semkain berkurang. Hanya angkanya saja yang semakin bertambah. Maka berhati-hatilah dengan umur kita. Kita harus sekuat tenaga menggunakannya seoptimal mungkin agar hidup ita penuh dengan kebahagiaan.

Ketiga, umur itu laksana pedang. Kalau kita anggap umur itu menghabiskan jatah waktu hidup di dunia ini. Jadi kalau mengacu kepada hadits, bahwa waktu itu laksana pedang, berarti umur pun laksana pedang. Artinya, setiap saat bisa membunuh kehidupan kita, jika sedetik saja kita berbuat sia-sia, Allah SWT mencabut nyawa kita, maka habislah amal kita dan tunggullah azab Allah SWT. Jadilah manusia yang senantiasa berjuang memanfaatkan umur – umur penuh amal shaleh.

Keempat, umur adalah catatan hidup manusia. Ingatlah wahai sahabatku, bahwa kita ini sedang menghitung hari. Berapa hari yang sudah digunakan untuk kebaikan amal shaleh, berapa hari yang tidak digunakan untuk amal shaleh. Sedangkan nanti diakhirat amal kita akan ditimbang. Seandainya, umur kita lebih banyak amal baiknya maka surgalah yang akan menjemput kita. Akan tetapi, jikalau amal jelek yang lebih berat maka neraka yang akan menjemputnya. Berusahalah sekuat tenaga agar hari demi hari diisi dengan amal shaleh.

Kelima, perbanyaklah istighfar. Manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan, kekurangan, kelemahan, dan dosa. Karena, memang manusia itu diberikan kebebasan oleh Allah SWT untuk berbuat baik atau berbuat jelek. Pada dasarnya semua manusia baik dan fitrah, namun setan yang terkutuk selalu menggangu dan menyeret manusia untuk menjadi temannya kelak diakhirat. Semoga kita terhindarkan dari bujuk dan rayuan setan yang terkutuk.

Ketika manusia mengalami surut dan melakukan kejelekan dan dosa, maka segeralah meminta ampun yang sungguh-sungguh. Dalam hidup ini tidak ada yang abadi, semuanya akan rusak dan binasa. Begitu pun dengan dosa kita, sebesar apapun dosa kita, karena Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Seandainya jiwa dan hati kita gundah karena melalaikan waktu dan umur, segeralah kita minta ampunan kepada-nya.

Tidak ada kata terlambat untuk kita memperbaiki diri dan bertekad melakukan yang terbaik dalam hidup. Yang paling penting sekarang adalah tekad untuk memperbaiki diri. Sebelum ajal datang kita masih bisa mengawalinya sekarang juga. Yakinlah, bahwa apa pun yeng telah diperbuat dan dirasakan hal itu merupakan kejelekan, sudah diampuni oleh Allah SWT.

Tulisan ini diturunkan saat miladku disadur dari blog sahabat kita di catatanseorangukhty.wordpress.com , terima kasih atas tulisannya, sangat mengguga

Selasa, 07 Juni 2011

PARA MUASIS DAKWAH


Bila dakwah sudah melekat dalam jiwa ....Ruh mereka hidup meski jasad mereka tak lagi bersama kita...Mereka adalah Para syuhada dikancah harokah. Semoga kita dapat mengambil inspirasi dari setiap jejak langkah perjuangan mereka (Imam Hasan Al-banna,Ustzh.Zainab Al Ghazali,KH.Rahmat Abdullah,Ustazh.Yoyoh Yusroh)...YAA AYYATUHANNAFSUL MUTHMAINNAH IRJI'I ILAA ROBBIKI ROODIYATANMARDIYYAH FADHULI FIIBAADI WADHULIIJANNATI'

Doa buat Ummu Umar, 'Yoyoh Yusroh'


1. Doa buat Ummu Umar, 'Yoyoh Yusroh': Kepergianmu.... Menguras airmata kami.. Kala kau menghilang di malam itu.. Antara percaya dan tidak..

2. Tanpa kata perpisahan.. Dan ucapan selamat jalan.. Mengapa yah, duka ini, seakan lekat di dada.. Telah kuusap, tak jua menjadi reda..

3. Telah kuusap, tak jua mnjadi reda Padahal semasa hayatnya, kerap tidak sempat menyapa Allah lebih tahu taqarrubmu Kami jadi saksi wara'mu

4. Kadang terungkap keluguanmu.. Bisik tilawah mendengung rumahmu ..Khudhu' wajahmu dalam Khusyu' mahdhohmu...

5. Keberanianmu membungkam busung dada kami.. Datang ke gaza hanya sebagian kecil bukti.. Demo jilbab dibebaskan, engkaulah yang mulai..

6. Tulusmu seperti Zaenab Ghazali.. Semangatmu seperti Maryam Jamilah.. Rindumu jumpa dengan Khadijah, juga shahabiyah

7. Shaummu jarang terlewatkan Anak banyak tidak halangi langkah dkawahmu.. Suami yg bersahaja setia mendampingi, hingga penghujung nafasmu..

8. Hanya doa kupanjatkan Allah mohon kabulkan Ampunkan Ya Allah RidhoMu Ya Allah Hiya min ahlil khayr Ya Allah Min ahlil khayr Ya Allah


9. Min Ahlil khayr Ya Allah Kami saksinya Ya Allah Kasihi Ya Allah Mudahkan Ya Allah Lapangkan Ya Allah

10. Sebab dia tidak pernah mempersulit Ya Allah Ringankan Ya Allah Sebab dia tidak pernah memberatkan kami Ya Allah

11. Maafkan Ya Allah Sebab dia tidak pernah dendam Ya Allah SyurgaMu Ya Allah SyurgaMu Ya Allah Kami mohon Ya Allah


12. Kasih sayangMu Ya Allah Engkau Maha Kuasa Ya Allah..... Allaaaaaaaaaaaaahhhhhhh.... !!!


Lantunan Doa dan kesaksian ini diambil dari Akun Twitter @tifsembiring

Minggu, 27 Maret 2011

Membocorkan Rahasia, sebuah Penghianatan

“Putriku, untuk apa semua persiapan ini?”
Abu Bakar keheranan dengan yang dilakukan oleh putrinya, Aisyah. Ia tahu bahwa sebenarnya puterinya sedang mempersiapkan perbekalan dan peralatan untuk berperang. Dan itu pasti karena diperintahkan oleh suami puterinya, Rasulullah. Yang membuatnya bertanya dengan pertanyaan seperti itu kepada Aisyah adalah rasa ingin tahunya tentang persiapan perang menghadapi siapa yang akan dilakukan oleh Rasulullah.
“Demi Allah, saya pun tidak tahu,” jawab Aisyah, sebagaimana dicatat oleh Imam Ath Thabrani .
Jadi, perintah Rasulullah bagi Aisyah untuk mempersiapkan perbekalan peperangan itu pun tanpa menyebutkan tujuan persiapannya. Tampak sekali bahwa Rasulullah sengaja merahasiakan rencana perang yang akan dilakukannya. Bahkan terhadap isterinya sekalipun.
“Demi Allah, sebenarnya ini bukan masa untuk memerangi bangsa kulit kuning itu. Kemana Rasulullah hendak tuju?" tanya Abu Bakar. Yang ia maksud dengan bangsa kulit kuning adalah Romawi.
“Entahlah, demi Allah saya kurang tahu,” kata Aisyah.
Berdasarkan riwayat Ath Thabrani, Rasulullah memerintahkan Aisyah mempersiapkan perbekalan dan peralatan perang sejak tiga hari sebelum datang kabar mengenai pelanggaran Perjanjian Hudaibiyah oleh Quraisy. Hari itu, saat kabar mengenai pelanggaran perjanjian dibawa oleh Amru bin Salim Al Khuza'i bersama 40 penunggang kuda. Ia mengabarkan berita pelanggaran perjanjian itu sembari meminta bantuan Rasulullah untuk menuntut pembalasan kepada kaum Quraisy yang bersama Bani Bakar telah membunuh beberapa anggota kabilahnya.
“Kau dibela wahai Amru,” kata Rasulullah menanggapi pernyataan Amru bin Salim Al Khuza’i. Kemudian Rasulullah melihat awan yang menutupi langit dan berkata, “Awan berarak itu, pembuka pertolongan kepada Banu Ka’ab.”
Tidak berapa lama kemudian tiba pula Budail bin Warqa' Al Khuza'i bersama beberapa orang dari Khuza'ah. Mereka menemui Rasulullah dan melaporkan jumlah bilangan korban peristiwa pembantaian anggota kabilahnya oleh Bani Bakar dan kaum Quraisy.
Sementara itu, di Makkah, kaum Quraisy berkumpul untuk bermusyawarah mengenai pelanggaran isi perjanjian secara terangterangan yang mereka lakukan. Mereka menyesali atas apa yang telah dilakukan. Keputusan mereka adalah mengutus pemimpin Makkah, Abu Sufyan untuk membuat perjanjian baru dengan Rasulullah di Madinah.
Dalam perjalanan ke Madinah, Abu Sufyan bertemu Budail bin Warqa' Al Khuza'i. Ia pun menanyakan dari manakah Budail bepergian, apakah dari menemui Rasulullah. Namun, Budail mengingkarinya dan mengatakan bahwa ia hanya berjalanjalan di sekitar pantai dan lembah di seputar daerah itu.
Abu Sufyan yang cerdas tidak percaya begitu saja. Selepas Budail melanjutkan perjalanan menuju Makkah, ia berkata pada pengiringnya, “Kalau Budail ini datang dari Madinah, pasti tunggangannya memakan makanannya ('alaf) yang mengandungi bijibijian Kota Madinah.”Saat mereka memeriksa kotoran unta Budail, ternyata memang benar.
Tampak pula bagaimana usaha Budail bin Warqa' Al Khuza'i untuk menutupi dan merahasiakan kepergiannya ke Madinah, tapi kecerdasan Abu Sufyan mengalahkan usahanya itu.
Abu Sufyan pun menuju Madinah. Mulamula, ia menemui puterinya yang merupakan isteri Rasulullah, tetapi sang puteri menolak ayahnya. Ia pun bermaksud menemui Rasulullah, tapi Rasulullah hanya diam saja dan menunjukkan penolakannya. Ia pun bermaksud meminta bantuan Abu Bakar untuk berbicara pada Rasulullah, tapi Abu Bakar menolaknya. Ia pun bermaksud meminta bantuan Umar bin Khathab, tapi ia menolaknya dengan keras. Ia pun bermaksud meminta bantuan Ali bin Abi Thalib, tapi Ali menyatakan ketidaksanggupannya. Sementara itu Hasan yang masih kecil yang berada si situ pun tak luput dari permintaan bantuan Abu Sufyan, tapi Fathimah pun juga menyatakan ketidaksanggupan siapapun menghalangi apa yang Rasulullah kehendaki.
Setelah meminta nasihat dari Ali, Abu Sufyan pun kembali ke Makkah dan mengabarkan kegagalannya membuat perjanjian baru dengan Rasulullah pada kaum Quraisy.
Setelah kedatangan Abu Sufyan itu, Rasulullah mengumumkan persiapan perang kepada kaum muslimin. Sehingga rencana ini tidak menjadi rahasia lagi di kalangan kaum muslimin. Namun beliau tetap merahasiakan hal ini dari orang di luar penduduk Madinah.
“Rahasiakan berita ini agar tidak sampai ke pengetahuan Quraisy. Supaya dapat kita gempur dan kejutkan mereka dengan kedatangan kita ke sana secara mendadak,” perintah Rasulullah saat itu.
Sebagai usaha menutup dan mengaburkan tindakannya, Rasulullah mengutus satu unit sariyah yang terdiri dari delapan orang di bawah pimpinan Abu Qutadah bin Rabi' ke daerah kediaman Adham yang terletak di antara Zi Al Khasyab dan Zi Al Maruah. Jaraknya kirakira tiga barad dari Madinah. Peristiwa ini terjadi di awal bulan Ramadhan tahun 8 Hijrah, supaya orang menyangka bahwa Rasulullah akan menuju ke sana dan sebagai cara merahasiakan pergerakan yang sebenarnya. Sariyah ini terus bertugas hingga sampai berita keberangkatan Rasulullah ke Makkah, maka sariyah ini mengalih perjalanannya hingga bertemu dengan Rasulullah, tulis Syaikh Shafyurahman Al Mubarakfuri dalam Al Rahiq Al Makhtum.
Dalam masa kritis itu, seorang shahabat yang bernama Hathib bin Abi Baltaah menulis surat untuk kaum Quraisy. Rasulullah memerintahkan Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan Miqdad mengambil surat dari kurirnya, yakni seorang perempuan yang akan mereka temui di Raudhah Khakh. Setelah berhasil memperoleh surat itu dan menyerahkannya pada Rasulullah, diketahuilah bahwa sang pengirim surat adalah Hathib bin Abi Baltaah.
Rasulullah pun bertanya, “Wahai Hathib, apa ini?”
“Jangan cepat menuduhku, wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku dahulu adalah seorang yang akrab dengan orangorang Quraisy,” kata Hathib membela diri. Maksudnya adalah bahwa ia pernah bersekutu dengan sebagian tokoh Quraisy di masa lalu.

“Para Muhajirin yang ikut bersamamu,” lanjutnya, “Mempunyai kerabat yang dapat melindungi keluarga mereka (di Mekah). Dan aku ingin, karena aku tidak mempunyai nasab di tengahtengah mereka, berbuat jasa untuk mereka sehingga mereka mau melindungi keluargaku. Dan aku melakukan ini bukan karena kekufuran dan bukan juga karena murtad bahkan tidak juga karena aku rela dengan kekufuran setelah memeluk Islam.”
Mendengar penuturan Hathib, Rasulullah pun berkata, “Dia telah berkata benar.”
Sementara itu, Umar bin Khathab yang menyadari kesalahan yang dilakukan Hathib adalah sebuah pengkhianatan besar karena telah membocorkan rahasia negara, turut berkata pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, biarkanlah aku memenggal leher orang munafik ini! Orang ini sudahpun mengkhianati Allah dan RasulNya. Dia sudah menjadi munafik.”
“Sesungguhnya,” kata Rasulullah kepada Umar sebagaimana tercatat dalam Shahih Muslim, “Dia telah ikut serta dalam perang Badar dan apa yang membuatmu tahu, barangkali Allah akan menemui para Ahli Badar dan berfirman, ‘Perbuatlah sesuka kamu sekalian karena sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian!’”
Maka, dibiarkannya Hathib bin Abi Baltaah tetap hidup. Atas kejadian ini, kemudian Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menurunkan firmanNya, dalam Surat Al Mumtahanah ayat pertama, “Hai orangorang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuhKu dan musuhmu sebagai temanteman setia.”
Sejarah pengkhianatan terhadap sebuah negara Islam dengan membocorkan informasi rahasia yang dimilikinya ini memberikan pelajaran berharga pada kita bahwa membocorkan rahasia yang dimiliki negara Islam adalah perbuatan yang hukumnya haram. Bahkan menurut Umar bin Khathab, dalam kasus Hathib, ia pantas dibunuh karena juga dianggapnya munafik. Akan tetapi Rasulullah melarangnya melakukan itu karena Hathib bukanlah orang yang munafik dan bukan pula karena ingin menghancurkan negara Islam, akan tetapi karena ia ingin menyelamatkan keluarganya di Makkah. Bahkan, pengampunan Rasulullah itu karena Hathib memiliki keutamaan sebagai Ahli Badr, veteran Perang Badr Kubra. Rasulullah mengatakan bahwa Allah telah berfirman tentang Ahli Badr dalam Shahih Muslim, “Perbuatlah sesuka kamu sekalian karena sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian!”
Sejatinya, pernyataan Umar bin Khathab tentang kemunafikan Hathib bin Abi Baltaah senada dengan sabda Rasulullah tentang ciriciri orang munafik, dalam Shahih Bukhari, “Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafik tulen, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifak hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanat dia khianat, jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika berseteru dia berbuat kefajiran.”
Apa yang dilakukan oleh Hathib bin Abi Baltaah termasuk dalam kategori “jika diberi amanat dia khianat”, yakni amanat menjaga kerahasiaan rencana persiapan penyerangan Makkah dari orang Qurays.
Dalam skala yang lebih kecil dari sebuah negara, apa yang dilakukan oleh Hathib bin Abi Baltaah pernah pula dilakukan oleh salah seorang shahabiyah yang merupakan isteri Rasulullah. Jadi kejadian ini berlangsung di dalam rumah tangga kenabian. Berikut kisahnya, berdasarkan hadits shahih dari Imam Ad Darimi dan Ibnu Jarir Ath Thabari dalam tafsirnya.
Suatu hari, Hafshah meninggalkan rumahnya menuju kediaman ayahnya, Umar bin Khathab, untuk suatu keperluan. Maka rumah Hafshah menjadi kosong. Kemudian, Rasulullah membawa isteri beliau yang berasal dari Mesir, Mariyah binti Ibrahim Al Qibtiyah, ke dalam rumah Hafshah tersebut. Di dalam kediaman Hafshah ini, rasulullah mencampurinya sebagai suami isteri.
Dalam pendapat lain tentang kisah ini, diceritakan bahwa Mariyah Al Qibtiyah kebetulan lewat di depan rumah Hafshah bersama Ibrahim, dan Rasulullah memanggilnya masuk. Dalam pendapat yang lain lagi, dikhabarkan bahwa Mariyah sengaja mencari Rasulullah.
Setelah menyelesaikan keperluannya, Hafshah kembali ke rumahnya yang berada di deretan cluster milik isteriisteri Rasulullah. Tibatiba, di hadapannya, ia mendapati suaminya tercinta sedang bermesraan dan bercumbu dengan salah satu isterinya yang lain di biliknya itu. Maka timbul kemarahan dalam diri Hafshah. Sedangkan Mariyah segera keluar dari rumah Hafshah.
Ia berkata, “Engkau bawa dia masuk ke rumahku? Engkau bawa dia masuk ke rumahku? Padahal engkau tidak berbuat begitu terhadap isterimu yang lain? Engkau memandang rendah diriku?”
“Jangan engkau beritahukan hal ini kepada ‘Aisyah. Maka sekarang, saya haramkan ia (Mariyah) atasku.”
“Bagimana engkau haramkan ia atas dirimu? Padahal dia adalah isterimu,” kata Hafshah.
Rasulullah pun bersumpah, “Mulai sekarang aku tidak akan mendekati lagi kepadanya.”
Sesudah mengatakan sumpahnya itu, Rasulullah kembali berkata, “Jangan engkau ceritakan hal ini kepada siapa pun juga.”
Hafshah pun berjanji tidak akan mengabarkan hal itu kepada siapapun. Dengan kemarahan yang memuncak dan cemburunya yang sangat, ia mencoba menahan diri. Namun, akhirnya ia tidak tahan menahan apa yang ia rasakan. Maka, ia pun menceritakan hal itu kepada ‘Aisyah. Dan tak lama kemudian berita itu sampai kepada isteriisteri Rasulullah yang lain.
Atas peristiwa ini turun ayat tentang tahrim dan seterusnya, “Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafshah dan Aisyah) kepada Muhammad...”
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah kemudian menjatuhkan talaq kepada Hafshah pasca membocorkan rahasia diantara mereka kepada Aisyah. Namun kemudian Rasulullah merujuknya kembali setelah Jibril memberitahukan bahwa Hafshah adalah perempuan yang berpendirian teguh dan mempertahankannya, serta melihat Umar bin Khathab, ayah Hafshah, yang resah dengan perceraian itu.
Jika dalam rumah tangga saja pembocoran rahasia diberikan sanksi berupa talaq, sebagaimana kasus Hafshah, maka dalam lingkup yang lebih luas selayaknya dilakukan yang demikian juga, diterapkan sanksi yang tepat sesuai dengan kadar pembocoran rahasianya dan kualitas kerahasiaan informasi tersebut.
Adalah wajar jika sebuah jama’ah da’wah yang memiliki tata kelola organisasi dalam manajemen da’wahnya. Tanzhim atau penataan bermanfaat untuk mengoptimalkan usahausaha da’wah sebagaimana disepakati oleh mayoritas umat dan lebih tepat diterapkan dalam dunia modern dan kontemporer. Dan wajar juga jika jama’ah da’wah memiliki informasiinformasi yang hanya boleh diketahui sebagian dari anggota jama’ah dan tidak boleh diketahui sebagian anggota jama’ah yang lain dalam rangka menjaga kemaslahatan da’wah, atau oleh masyarakat umum, atau bahkan musuh da’wah. Terlebih lagi jika informasi itu merupakan informasi strategis yang bisa dimanfaatkan oleh musuh da’wah untuk memukul da’wah.
Dalam manhaj da’wah Rasulullah, dikenal istilah sirriyatut tanzhim wa jahriyatud da’wah. Istilah ini digunakan oleh Syaikh Munir Muhammad Ghadban dalam bukunya, Manhaj Haraki, dalam menentukan fasefase da’wah yang Rasulullah lakukan. Sirriyatut tanzhim wa jahriyatud da’wah maksudnya adalah merahasiakan struktur organisasi da’wah dan menerangkan da’wah sejelasjelasnya kepada masyarakat umum. Jadi, meskipun da’wah diserukan secara terbuka, struktur da’wah haruslah dirahasiakan untuk mengantisipasi fitnah terhadap organisasi da’wah dari musuhmusuh da’wah. Dalam hal ini, sirriyah sangat berkaitan erat dengan amniyah.
Dalam konsep ini, yang harus dirahasiakan tidak hanya struktur organisasi da’wah, tetapi juga berbagai data dan informasi khusus yang dimiliki jama’ah dari pihakpihak yang dianggap akan membawa kemudharatan jika mengetahui informasi itu. Yang selanjutnya perlu dirahasiakan adalah mengenai pribadi anggota jama’ah da’wah, tentunya informasi terkait halhal privasi.
Setiap kader da’wah pasti memiliki urusanurusan yang tidek semua orang boleh mengetahuinya, karena halhal seperti pekerjaan, kesehatan, keuangan, rumah tangga, dan lainnya merupakan aib yang tidak boleh diungkapkan. Jika halhal tersebut sengaja dirahasiakan oleh sang kader atau oleh jama’ah, lantas ada yang membocorkannya kepada khalayak ramai, maka hal itu masuk dalam pelanggaran syar’i dan etika sosial. Hal ini akan melemahkan kehormatan atau izzah dari si pemilik rahasia dan merusak rasa percaya dirinya. Bisa jadi hal ini akan mengganggu aktifitas da’wahnya, menyebabkan dirinya futur, dan insilakh atau keluar dari kesertaannya dalam da’wah.
Sedangkan dari masyarakat umum akan memberikan pandangan yang negatif dan rendah terhadap si pemilik rahasia yang tersebar karena dibocorkan tersebut. Dan ini tentu saja pukulan bagi da’wah karena tiap personel da’i adalah teladan hidup atas apa yang dida’wahkannya.
Karena itu, penerapan sanksi bagi si pembocor yang mengkhianati amanah menjadi sangat penting. Terutama kaitannya untuk mewujudkan iklim yang kondusif dan menjauhkan dari fitnah terhadap da’wah. Selain itu, seorang pembocor rahasia hendaknya taubat dnegan taubatan nasuha karena apa yang dilakukannya merupakan pelanggaran syara’, sebagaimana yang dilakukan oleh seorang shahabat bernama Abu Lubabah bin Abdil Mundzir.
Saat itu Rasulullah dalam pengepungan Bani Quraidhah selama dua puluh satu hari karena mereka mengkhianati kaum Muslimin dalam Perang Ahzab atau Perang Khandak. Saat merasa tidak ada kesempatan memenangkan pertempuran karena dikepung berharihari, kaum Yahudi itu pun meminta berdamai dengan Rasulullah melalui utusannya. Mereka meminta untuk dikirimkan Abu Lubabah bin Abdil Mundzir, “Dia seorang sahabat karib kami. Dahulu, harta dan anakanaknya bersama kami.”
Rasulullah pun mengirim Abu Lubabah. Saat memasuki Benteng Bani Quraizhah, ia disambut anakanak dan isterinya yang menangis. Hatinya terpengaruh oleh kondisi itu. Begitu menemui para pemimpin Yahudi, ia ditanya, “Apa engkau menyetujui keputusan Muhammad?”
“Ya,” jawab Abu Lubabah serasa memberi isyarat dengan tangannya ke lehernya. Itu merupakan pertanda bahwa Rasulullah memutuskan akan membunuh seluruh pengkhianat Bani Quraidhah. Padahal hukuman untuk itu masih merupakan rahasia pasukan Islam.
“Demi Allah,” kata Abu Lubabah, seperti dicatat dalam Rijalun wa Nisa’un Anzalallhu Fihim Qur’ana, “Belum beranjak kedua kakiku dari tempatnya melainkan aku menyadari bahwa aku sudah mengkhianati Allah dan RasulNya.”
Abu Lubabah pun serta merta menyesali perbuatannya membocorkan rahasia pasukan Islam meski hanya dnegan isyarat tangan, ia pun bertaubat. Ia pergi ke Masjid Nabawi dan tidak menemui Rasulullah lagi. Ia mengikatkan badannya pada salah satu tiang masjid seraya berkata, “Aku tidak akan meninggalkan tempatku ini hingga Allah mengampuni apa yang telah aku perbuat. Dan aku bersumpah tidak akan pergi lagi ke perkampungan Bani Quraidhah. Dan aku tidak akan melihat negeri yang pernah aku berkhianat kepada Allah dan RasulNya untuk selamalamanya.”
Allah pun menurunkan ayat tentangnya dalam Surat Al Anfal, “Hai orangorang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanatamanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anakanakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”
Sesudah ayat itu turun, ia memperkeras ikatannya pada pilar Masjid, “Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati atau Allah mengampuni dosaku ini.”
Setelah tujuh hari tujuh malam ia tidak makan, ia pun tak sadarkan diri. Lalu Allah mengampuni Abu Lubabah saat Rasulullah berada di rumah Abu Salamah dengan menurunkan ayat ke 102 dari Surat At Taubah, “Dan (ada pula) orangorang lain yang mengakui dosadosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudahmudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.”
Dan hal itu disampaikan isteri Abu Salamah kepadanya, “Ya Aba Lubahah, bergembiralah. Allah telah mengampuni dosamu.”
“Tidak,” katanya, “Aku tidak akan membuka ikatanku hingga Rasulullah datang membukanya.”
Tidak lama setelah itu Rasulullah datang dan membuka ikatannya sebagai tanda bahwa beliau juga telah mengampuninya. Padahal sebelumnya Rasulullah telah mengampuni Abu Lubabah sebagaimana dicatat Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah, “Kalau dia datang menemuiku, tentu aku akan memohonkan ampunan kepadanya. Akan tetapi karena ia bertindak sendiri, maka aku tidak mungkin bisa melepaskannya dari tempatnya hingga Allah melepaskannya.”
Begitulah hati seorang mukmin yang peka terhadap kesalahannya, ia segera bertaubat nasuha. Ia menyadari betapa buruknya pengkhianatan yang dilakukannya dan segera mungkin memohon ampunan Allah. Meski butuh berharihari ia menunjukkan kesungguhannya bertaubat hingga tidak makan dan minum selama tujuh hari, tetapi itu terbayar indah saat Allah memberikannya ampunan kepadanya.
Hendaklah setiap pembocor rahasia yang menyadari kesalahannya karena berkhianat untuk segera kembali pada jalan yang lurus, bertaubat atas pengkhianatannya itu dan memperbaiki apaapa yang telah dikhianatinya. Karena jika tidak, dan Allah tidak mengampuninya, stempel pengkhianat di jidatnya tidak akan hilang hingga kiamat datang.
“Setiap pengkhianat,” kata Rasulullah, seperti tercatat dalam Majmu’ Fatawa li Ibni Taimiyah, “Memiliki bendera pada hari kiamat. Ia akan dikenal dengan bendera itu.”

Penulis : Shabra Syatila

Rabu, 23 Maret 2011

Anis Matta: Sistem Diatas Individu

Sejumlah isu terkait tudingan Yusuf Supendi dijawab dengan tuntas oleh Sekjen DPP PKS Anis Matta. Berikut waawancara lengkapnya di gedung DPR, Jakarta, Senin (21/3/2011):
---


Apa tanggapan PKS atas laporan Yusuf Supendi ke KPK?

Sebagai warga negara, beliau berhak melaporkan siapa saja. Punya hak penuh untuk itu. Kita menghargai sebagai warga negara. Sepanjang tidak ada fakta hukum sampai kini maka kami tidak mensikapi itu secara serius. Kan sampai sekarang ini tidak ada fakta hukum. Ini semua kan hanya tudingan-tudingan.

Sebenarnya ancaman ini ancaman lama sejak 2005-2006, semua yang dilaporkan ini sudah disebarkan kepada kader kader PKS sejak tahun-tahun itu. Kita juga tidak kaget. Kemudian, masalahnya begini, beliau memang orang senior di PKS, boleh dibilang guru saya juga. Beliau juga mantan Ketua Dewan Syariah, anggota Majelis Syura.

Tapi di PKS ini, sistem di atas individu, pejabat siapapun yang melakukan pelanggaran dipastikan kena sanksi. Tidak peduli siapa dia. Termasuk saya, setiap saat bisa seperti itu. Beliau ini sebenarnya sudah, kasus lama beliau sejak 2003, proses internalnya lama karena beliau senior. Baru kita ambil keputusan resmi pada 2009.

Apakah akan melakukan gugatan terhadap Yusuf Supendi?

Ada tuntutan kader untuk menggugat. Tapi kita di DPP belum berfikir ke situ. Semua orang yang sudah kena hukuman di PKS itu tidak disosialisasikan. Kita tidak mau sanksi ini menjadi character assassination yang bersangkutan. Kita menjaga keutuhan keluarga mereka. Sebab yang dipecat itu bukan hanya beliau, tapi banyak. Orang-orang senior termasuk mantan Wakil Presiden PK.

Tapi kita biasanya menutup kasus ini, kecuali yang bersangkutan membukanya. Itu etika, meskipun sistem kita keras, tetapi disisi lain kami punya perlakuan manusiawi kepada semua anggotanya lagipula ini kan organisasi dakwah. Setiap saat orang bisa berubah, ini kan bukan akhir hidupnya. Karena orang-orang masih muda, kita memberi ruang untuk berubah.

Bagaimana dengan tudingan ke Anda telah melakukan penggelapan uang pilkada DKI sebesar Rp10 miliar?

Kok cuma 10 ya. Yang dilaporkan PKS ke KPUD Rp76 miliar. Itu kumpulan dari ramai-ramai. Saat itu saya koordinator. Tapi seluruh keuangan dipegang oleh DPW DKI. Ada laporannya dan menggunakan akuntan publik.

Apakah Anda melihat ada pihak lain di belakang Yusuf?

Kita punya kecurigaan seperti itu. Tapi saat ini kita baru mempelajarinya, siapa saja yang bermain seperti itu. Tapi kita percaya, buat PKS ini adalah berita baik. Karena, kita punya peluang memperkenalkan sistem internal PKS. Bahwa di PKS, sistem di atas individu. Tidak ada orang suci di PKS, siapa saja bisa kena hukuman begitu melanggar. Termasuk yang menimpa Yusuf Supendi.

Pelanggaran apa yang dilakukan Yusuf hingga dia dipecat dari PKS?

Itu tidak bisa saya buka. Itu etika internal kita.

Banyak analis menilai, isu ini akan menggerus PKS 2014?

Ini sudah selesai kok. Sekarang kita mau menyelesaikannya. Pertama, beliau bukan kader karena sudah dipecat, kecuali kalau nanti ada kaitannya dengan lembaga hukum negara, itu urusan lain. Kita tenang-tenang saja.

Apakah gerakan Yusuf terpola?

Kita tidak mau menanggapi sejauh itu. Yang jelas, yang kita pecat jumlahnya banyak. Tapi untuk etika internal PKS, kita tidak buka kasus itu ke publik. Apakah ada faktor politik yang melatarinya? Tentu ada. Tapi kita sedang mempelajari.

Kita di PKS punya peta yang membuat kita tahu ada pergerakan seperti ini. Cuma kita tidak mau bereaksi lebih. Bagi kita biasa, karena pola ini sudah berlaku lama. Kita tahu tapi kita tidak perlu bereaksi terlalu jauh. Karena selama ini kita tidak melihat adanya ancaman terhadap PKS.

Apakah ada parpol lain di belakang ini?

Secara logika ada serangan balik ke PKS tapi detilnya seperti apa, sedang kita pelajari. Tapi petanya sudah kelihatan. Saya menduga masih ada beberapa serangan di beberapa hari ke depan. Ini ada permainan. Tapi kita santai aja, walau kita tahu ada permainan. Ini berkah buat PKS ada panggung kita jelaskan mekanisme internal.

Pelajaran dari Organisasi Al-Ikhwan

Berikut adalah ringkasan yg dinukil dr Tarikh Ikhwan 2 (1928-1938), halaman 562-578 terbitan Intermedia.

Fitnah Kedua (1937-1938)

Sebab: semangat yang meledak-ledak, ingin mencapai tujuan sebelum sempurna prinsip-prinsipnya.

Tokoh:
1. Muhamamd Izzat Hasan Mu'awin
2. Ahmad Rif'at
3. Shadiq Affandi Amin
4. Hasan As Sayyid Ustman

Ke-empatnya adalah anggota kantor pusat dan memiliki sejumlah pengikut.
Kebijakan yg dikritisi adalah:

1. Ikhwan terlalu basa-basi dan hanya melakukan manuver politik.
2. Masalah perempuan dan keharusan mentaati hukum islam tentang larangan berdandan dan berpenampilan seronok (tidak tegas)
3. Dlm masalah Palestina, tak cukup hanya kampanye dan dana.

Akh muhammad izzat menulis artikel di majalah "Jaridah Al-Ikhwan Al-Muslimin, diantaranya: 'Ikhwan untuk meraih tujuannya dan mengemban amanahnya pada terakhir ini bukan tindakan yg dekat dengan Allah, bukan jalan yg digariskan Allah dan bukan tindakan yg dilakukan Rasulullah Saw, tidak sejalan dengan sunnatullah terhadap hamba-hambanya dan tindakan yg tidak tepat.'

Al-Banna kemudian menulis artikel bantahan yang sangat panjang di majalah yg sama, yang intinya menegaskan kebijakan yg diambil Ikhwan adalah yg terdekat dg Islam dan sunnah rasul-Nya, Ikhwan tidak membuat permusuhan dengan masyarakat apalagi menyingkirkannya. Terkait palestina, Albanna menyurati mufti Palestina, yg kemudian merespon:

'yg dilakukan Ikhwan untuk mengkampanyekan Palestina sdh tepat dan kami tidak memerulakan sukerelawan.'

Perlawanan Ahmad Rif'at makin keras, dan didukung Isa Abduh, intelektual Ikhwan pada saat itu. Pengikutnya makin banyak, makin nekat dan menentang Al-Banna secara langsung dan melontarkan kata-kata pedas, memanggil dengan panggilan tak pantas. Ia dan kelompoknya melangkah lebih jauh dengan mencaci maki Al-Banna yang membuat hampir semua anggota jamaan marah dan tak kuasa menahan diri.

Pengkut setia Al-Banna ingin menghadang dengan sedikit keras, tapi Al-Banna mengetahui sikap itu dan menghalangi maksud pengikut beliau.

Al-Banna kemudian melarang merespon Rif'at dkk, meski dengan kata-kata yg bisa menyinggung perasaan mereka. meski demikian Rif'at dkk tdk merasa malu, tidak mengalah dan makin menampakkan kebodohannya.

Berakhirnya Fitnah

Akh Mahmud Abdul Halim dan rekan-rekannya mengusulkan kepada Al-Banna:
1. Al-Banna menjauhi kantor pusat
2. Menugaskan sejumlah anggota yg konsisten dan setia dengan bai'atnya utk di kantor pusat tiap malam.
3. Para anggota yang msh komit dg baiat dihimbau untuk memboikot para pemicu fitnah dan pengikutnya. Tak usah berucap salam dan menjawab salam mereka dan tak perlu mendengarkan omongan mereka.
4. Para anggota yg masih komit harus berjanji tidak akan menyinggung penebar fitnah dan dan menyakitinya, apapun bentuknya.
5. Membentuk komisi untuk melaksankan keputusan di atas
6. Memperbarui ikrar dan janji kebersamaan atas dasar prinsip-prinsip dakwah, taat dalam senang atau duka.

Anggota ikhwan melaksanakan dan mensosialisasikan usulan tersebut, dan terlihat jelas mana yg masih komit dg Al-Banna dan mana pendukung fitnah. Lama-kelamaan pengikut fitnah makin berkurang tinggal provokator dan beberpa gelintir orang.

Akibat Fitnah

Dampak buruk fitnah tsb adalah:
1. Terhentinya aktivitas ikhwan dan terkurasnya energi kurang lebih satu setengah tahun
2. Keluarnya anggota senior Ikhwan, diantaranya Mahmud Izzat, padahal ia adalah perekrut Musryid 'Am ketiga, Umar Tilmisani.
3. Ahmad Rif'at berinisiatif sendiri ke Palestina dan tewas oleh mujahidin palestina karena dicurigai sbg mata-mata.
4. Lepasnya majalah (jaridah) Al-Ikhwan Al-Muslimin dari kontrol jamaah.

Majalah An-Nadzir, Juni 1938 memuat keputusan kantor pusat:
Kantor pusat memutuskan pemecatan thd Muhammad Affandi Izzat, Hasan Affandi As Sayyidi, Shadiq Affandi Amin, Ahmad Affandi Rif'at karena menyalahi pemikiran Ikhwan. Dg demikian mereka bertanggung jawab atas perbuatan mereka sendiri dan tidak merepresentasikan jamaah sampai ada keputusan lain yg meninjau status mereka.

Penjelasan kantor pusat:
- Pimpinan pusat telah berkali-kali melakukan nasihat santun dan persuasif, tp mereka malah menentang dan sesumbar. akhirnya kantor pusat mengumumkan pemecatan mereka disebabkan menyalahi pilihan sikap/pemikiran yg diambil jamaah.
- Kantor pusat tdk menyerang mereka, dan tidak mengaggap mereka krn sdh di luar jamaah.
- Kantor pusat akan memberi dukungan manakala sejalan dg misi Ikhwan
- Diingatkan bhw setiap gerakan dakwah memiliki musuh, baik dr keluarganya sendiri maupun selian mereka, yg tidak memahami hakikat dakwah, mengejar kepentingan pribadi, atau merasa tergoda olehnya
-hati manusia di tangan allah, bahkan dakwah islam pertama di masa Rasul yg ma'shum pun tidak terlepas dr pembangkangan. Karenanya setiap anggota ikhwan diingatkan untuk- menyiapkan hati, krn pembangkangan mungkin sj terjadi di kemudian hari, dakwah makin berkembang makin banyak musuh.- bersegeralah terjun untuk melakukan amal-amal dakwah, tak ada waktu utk debat dan membincangkan fitnah.
- Kantor pusat tidak akan segan mengambil tindakan tegas thd anggota yg melanggar aturan dan platform/konsep berfikir yg dipilih jamaah apapun jabatan, kedudukan, posisinya.
- Hak Allah di atas semua hak, pemecatan bukan berarti perpecahan dlm jamaah bukan pula kelemahan dakwah namun merupakan upaya tarbawi yg harus dilakukan untuk pembelajaran yang benar serta pembersihan terhadap pembangkangan dan sangsi yang lazim.
- Dalam setiap gerakan dakwah selalu ada yg tidak jera kecuali kepada hukuman.

Wahai ikhwan, melaju berlarilah dengan berkah Allah, Rasulullah pemimpin kalian, dan Mursyid 'Am adalah komandan kalian. Allah tidak menginginkan kecuali menyempurnakan cahaya petunjuk-Nya.

Abdul Hakim Abidin
(Sekretaris Kantor Pusat)

7 Arahan Ustadz Hilmi Aminuddin


Situasi yang kita hadapi sekarang adalah mata rantai dari ujian-ujian dakwah sebelumnya. Adalah sunatullah bahwa akan ada terus rekayasa untuk mengkerdilkan dakwah. Namun yang penting adalah bagaimana kemampuan kita untuk membuktikan dengan kerja nyata.

Kita sebagai dai dan daiyah diperintahkan oleh Allah SWT jika menghadapi sesuatu yang sulit, yang menghimpit, cepat kembali kepada Allah (fafirruu ilallah..). Kemudian selesaikan dengan mentadabburi konsep Allah. “Afala yatadabbarunal Qur’an am ‘ala quluubin aqfaluha.”

Dari tadabur ayat-ayat Allah ini, maka dalam menghadapi berbagai masalah, ancaman dan makar, maka kita harus memiliki bekalan-bekalan yakni:

(1) Atsbatu mauqifan (menjadi orang yang paling teguh pendirian/paling kokoh sikapnya)

• At-Tsabat (keteguhan) adalah tsamratus shabr (buah dari kesabaran).
• Famaa wahanuu lima ashobahum fii sabiilillahi waaa dhoufu wamastakanuu…
• “…mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah. Allah menyukai orang-orang yang sabar…” (3:146)
• Keteguhan itu membuat kita tenang, rasional, obyektif dan mendatangkan kepercayaan Allah untuk memberikan kemenangan kepada kita.
• Keteguhan sikap kadang-kadang menimbulkan kekerasan oleh karenanya perlu diimbangi dengan yang kedua.

(2) Arhabu shadran (paling berlapang dada)

• Bukan paling banyak mengelus dada.
• Silakan bicara tetapi silakan buktikan.
• Jika tidak ada lapang dada akan timbul kekakuan.

(3) A’maqu fikran (pemikiran yang mendalam)

• Mendalami apa yang terjadi.
• Jangan terlarut pada fenomena, tetapi lihatlah ada apa di balik fenomena tsb.
• Ketika kita merespon pun akan objektif.
• Respon-respon kita objektif, terukur, mutawazin (seimbang).
• Pemikiran yang mendalam kadang-kadang membuat kita terjebak pada hal yang sektoral, maka harus segera diimbangi pula dengan yang bekal keempat:

(4) Ausa’u nazharan (pandangan yang luas)

• Temuan sektoral perlu dicari.

(5) Ansyathu amalan (paling giat dalam bekerja)

• Sambil merespon sesuai dengan kebutuhan tetap kita harus giat bekerja.
• Orang-orang tertentu saja yang menangani, selebihnya harus terus bergerak dalam kerangka amal jamai. Energi kita harus prioritas untuk membangun negeri.
• Bekerja untuk Indonesia di segala sektor, struktur sampai tingkat desa, dan kader-kader yang mendapat amanah di pemerintahan. Fokuskan semua bekerja.

(6) Ashlabu tanzhiman (paling kokoh strukturnya)

• Kita jamaah manusia, ada kekurangan, ada kesalahan. Kita harus rajin membersihkannya. Seorang muslim ibarat orang yang tinggal di pinggir sungai dan mandi lima kali sehari. Jika sudah begitu, pertanyaannya: “Masih adakah daki-daki kita?”
• Allah berfirman “wa qul jaal haq wa zahaqal bathil”. Secara fitrah jika al Haq muncul, maka kebatilan akan lenyap, oleh karena itu teruslah hadirkan al Haq dan mobilisir potensi kebaikan. Jika kita lengah mendzohirkan al-haq maka kebatilan yang tadinya marjinal akan tampil dan al-haq terbengkalai.
• Hidup berjamaah adalah untuk memobilisir potensi-potensi kebaikan.

(7) Aktsaru naf’an (paling banyak manfaatnya)

• Khoirunnas anfa’uhum linnas.
• Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.
• Buktikan bahwa jamaah ini banyak manfaatnya sehingga berhak mendatangkan pertolongan Allah dan pertolongan kaum Mukminin.

Jika tujuh hal itu dilakukan untuk menghadapi tantangan dan rekayasa, insya Allah dakwah ini akan semakin kokoh dan semakin diterima untuk menghadirkan kebajikan-kebajikan yang diharapkan oleh seluruh bangsa.

*Disampaikan dalam Acara DPW PKS Jabar di Lembang, 19 Maret 2011

Hymne PKS

Rangkaian Nasyid Jejak